Teoriilmukimia - Sel surya atau solar cell adalah elemen aktif yang mengubah energi cahaya menjadi energi listrik. Sel surya terbuat dari bahan semikonduktor dengan kutub positif dan negatif. Apabila cahaya mengenai permukaan sel surya maka akan timbul perbedaan tegangan. Untuk mendapatkan daya yang lebih besar sel surya dapat dihubungkan secara seri atau paralel tergantung sifat penggunaannya (Deb dkk., 1998). Gambar 1 menunjukkan rangkain listrik untuk pengukuran sel surya.
Cara kerja sel surya adalah dengan memanfaatkan teori cahaya sebagai partikel. Sebagaimana diketahui bahwa cahaya baik yang tampak maupun yang tidak tampak memiliki dua sifat yaitu sebagai gelombang dan partikel yang disebut dengan foton (Deb dkk., 1998).
Energi yang dipancarkan oleh cahaya dengan panjang gelombang λ dan frekuensi foton υ dirumuskan dengan persamaan :
Energi yang dipancarkan oleh cahaya dengan panjang gelombang λ dan frekuensi foton υ dirumuskan dengan persamaan :
E =
h . υ
= h c/λ ………………………........................... (1)
h =
konstanta Planck (6.62 x 10-34 J.s)
![]() |
Gambar 1. Rangkaian
listrik sel surya
|
Sistem sel surya fotoelektrokimia memanfaatkan fenomena (efek) persambungan bahan semikonduktor dengan elektrolit, proses transfer pasangan elektron negatif (e-) dan hole positif (h+) antara bahan semikonduktor dan elektrolit yang dibangkitkan melalui penyerapan (absorpsi) energi cahaya. Pasangan elektron negatif (e-) dan hole positif (h+) ini berperan dalam terjadinya reaksi redoks (reduksi-oksidasi) dalam sel elektrokimia.
Bahan semikonduktor yang banyak digunakan pada sistem sel surya ini adalah bahan yang memiliki celah pita energi yang lebih lebar seperti TiO2, ZnO dan WO3 (Gunlazuardi, 2001).
Bahan semikonduktor yang banyak digunakan pada sistem sel surya ini adalah bahan yang memiliki celah pita energi yang lebih lebar seperti TiO2, ZnO dan WO3 (Gunlazuardi, 2001).
1.
Macam-macam Sel Surya
1.1 Sel surya generasi
pertama
Generasi pertama dari sel surya adalah jenis wafer
(berlapis) silikon kristal tunggal (jenis solar sel yang pertama), memiliki
efisiensi yang sangat besar tetapi biaya produksi sangat tinggi sehingga tidak
komersil untuk digunakan sebagai sumber energi alternatif. Jenis sel surya yang
kedua adalah jenis wafer silikon poli kristal. Masing-masing lapisan memiliki
ketebalan sekitar 250 mikrometer. Jenis sel surya tipe ini pembuatannya lebih
murah meskipun tingkat efisiensinya lebih rendah jika dibandingkan dengan
silikon kristal tunggal (West, 2003).
1.2 Sel surya generasi
kedua
Sel surya generasi kedua adalah jenis lapisan tipis (thin
film). Ide pembuatan jenis sel surya lapisan tipis adalah untuk mengurangi
biaya pembuatan sel surya mengingat jenis ini hanya menggunakan kurang dari 1%
dari bahan baku silikon jika dibandingkan dengan bahan baku untuk jenis silikon
wafer. Dengan penghematan yang tinggi pada bahan baku membuat harga per KwH energi yang
dibangkitkan menjadi lebih murah (West, 2003).
1.3 Sel surya generasi
ketiga
Generasi ketiga dari jenis sel surya ini yaitu tipe solar
sel polimer atau disebut juga dengan sel surya organik dan tipe sel surya
fotoelektrokimia. Sel surya organik dibuat dari bahan semikonduktor organik
seperti polivinilen, vinilena dan fulerena. Tipe sel surya fotoelektrokimia
terdiri dari sebuah lapisan nanopartikel (biasanya titanium dioksida) yang
dilapiskan pada kaca substrat dan direndam dalam dye. Jenis ini pertama
kali diperkenalkan oleh Profesor Gratzel pada tahun 1991 sehingga jenis solar
sel ini sering juga disebut dengan sel Gratzel atau dye-sensitized
solar cells (DSSC) (Smestad dan Gratzel, 1998).
2.
Kinerja Sel Surya
Daya listrik
yang dihasilkan sel surya ketika mendapat cahaya matahari diperoleh dari
kemampuan perangkat sel surya mengubah energi matahari menjadi energi listrik
untuk menghasilkan tegangan dan arus. Ketika sel dalam kondisi rangkaian pendek (short circuit,)
arus maksimum atau arus short circuit (ISC)
dihasilkan, sedangkan pada kondisi rangkaian terbuka (open circuit)
tidak ada arus yang dapat mengalir sehingga tegangannya maksimum, disebut
tegangan rangkaian terbuka (VOC).
![]() |
Gambar 2. Karakteristik kurva I-V pada sel surya |
Gambar 2
menunjukkan karakteristik kurva arus-tegangan sel surya.Titik pada kurva arus
terhadap tegangan yang menghasilkan arus
dan tegangan maksimum disebut titik daya maksimum (MPP). Karaktersitik penting
dari sel surya yaitu faktor pengisian (fill factor/FF), dengan
persamaan,
dengan
menggunakan faktor pengisian maka daya maksimum dari sel surya didapat dari
persamaan:
PMAX = Voc.Isc.FF ………………………......................... (3)
sehingga
efisiensi sel surya yang didefinisikan sebagai daya yang dihasilkan dari sel
dibagi dengan daya dari cahaya yang datang:
Nilai
efisiensi ini yang menjadi ukuran dalam menentukan kualitas kinerja sel surya
(Septina dkk., 2007).
3. Dye Sensitized Solar Cell (DSSC)
Dye Sensitized Solar Cell (DSSC), sejak pertama kali
ditemukan oleh Michael Gratzel pada tahun 1991, telah menjadi salah satu topik
penelitian yang dilakukan intensif oleh peneliti di seluruh dunia. DSSC bahkan
disebut juga terobosan pertama dalam teknologi sel surya sejak sel surya
silikon.
Berbeda dengan sel surya
konvensional, DSSC adalah sel surya fotoelektrokimia yang menggunakan
elektrolit sebagai medium pengangkut muatan. Selain elektrolit, DSSC terbagi
menjadi beberapa bagian yang terdiri dari nanopori TiO2,
molekul zat warna (dye) yang teradsorpsi di permukaan TiO2 dan katalis yang semuanya diendapkan di antara
dua kaca berpenghantar.
Bagian atas dan bawah sel surya
merupakan kaca yang sudah dilapisi oleh oksida berpenghantar transparan
yang sering disebut TCO (oksida berpenghantar yang transparan), yang
berfungsi sebagai elektroda dan elektroda perlawanan. Kaca TCO elektroda
perlawanan dilapisi katalis untuk mempercepat reaksi redoks dengan elektrolit. Pasangan
redoks yang umum dipakai yaitu I-/I3- (iodida/triiodida).
Permukaan elektroda dilapisi TiO2 nanopori tempat zat warna teradsorpsi di
pori TiO2.
Zat warna yang umum digunakan yaitu jenis kompleks ruthenium (Phani dkk., 2001).
4.
Cara Kerja Sel Surya
Skema
kerja DSSC ditunjukkan oleh gambar 4.
Pada dasarnya prinsip kerja DSSC merupakan reaksi transfer elektron. Proses
pertama dimulai dengan terjadinya eksitasi elektron molekul zat warna akibat
penyerapan foton. Elektron tereksitasi dari keadaan dasar (D) ke keadaan
tereksitasi (D*).
Elektron
dari keadaan tereksitasi kemudian langsung terinjeksi menuju pita konduksi (ECB)
titania sehingga molekul zat warna teroksidasi (D+). Dengan adanya
elektron penyumbang dari elektrolit (I-) maka molekul zat warna
kembali ke keadaan awalnya (ground state) dan mencegah penangkapan
elektron kembali oleh zat warna yang
teroksidasi.
TiO2|D + hυ à TiO2|D*
..…………………………....... (5)
TiO2|D* à TiO2|D+ + e- ……………………………….. (6)
TiO2|D+
+ 3/2I- à TiO2|D
+ ½I3- …………………….. (7)
½I3-
+ e- à 3/2I-
………………………………............ (8)
I3-
+ 2e- à 3I-
…………………………………............. (9)
makasih kak sudah diberi penjelasan
BalasHapusberita militer indonesia